Artikel B.Indonesia

Posted on

Diadukan Penumpang, Mengapa Taksi di Jakarta Ini Dihukum Rp 102 Juta?

Transportasi merupakan hal yang penting bagi kehidupan kita sehari-hari, ada transportasi pribadi dan ada transportasi umum untuk masyarakat yang tidak menggunakan transportasi pribadi. Banyak transportasi umum yang ditawarkan ke masyarakat dengan berbagai fasilitas yang diberikan, sehingga masyarakat hanya perlu memilih mana yang sesuai untuk mengantarkan ke tempat tujuannya masing-masing sesuai kebutuhan yang diinginkan.

Taksi adalah salah satu alat transportasi umum yang sudah sejak dulu menjadi pilihan masyarakat untuk mengantarkan ke tempat tujuan, karena taksi menawarkan fasilitas yang berbeda dari transportasi umum lainnya. Taksi membuat masyarakat seperti berada dalam kendaraan pribadi dapat mengantarkan sampai tujuan bahkan sampai di depan rumah, dan juga taksi beroperasi selama 24jam jadi masyarakat dapat menggunakan taksi di jam-jam emergency saat transportasi lainnya sudah habis waktu beroperasinya.

Banyak keunggulan yang ditawarkan oleh taksi, kenyamanan dan rasa aman masyarakat yang menggunakan jasa taksi sangat diprioritaskan oleh pihak taksi. Namun banyak sopir taksi yang tidak menerapkan kenyamanan pengguna taksi, karena sudah menjadi rahasia umum lagi bahwa banyak dari sopir taksi pada umumnya sering memanfaatkan ketidaktahuan pengguna jasa taksi untuk mengambil rute jalan yang jauh agar argo taksi naik sehingga dapat meningkatkan pendapatan sopir taksi.

Pada 10 Agustus 2011 pukul 20.00 WIB saat HJP seorang wanita memutuskan untuk naik taksi dari Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Namun taksi yang seharusnya mengantarnya ke Cibubur dan melalui tol Jagorawi, tiba-tiba terseret arus lalu lintas dan masuk ke JORR arah Jatiasih. Di saat yang bersamaan, penumpang tertidur. Lalu setelah itu penumpang terbangun, Sopir taksi lalu meminta maaf dan menawarkan apakah akan kembali ke jalur atau melalui jalan umum. Lalu HJP menjawab tidak usah balik tetapi menggunakan jalan umum lewat Setu-Cilangkap-Cibubur. Setelah mendapat persetujuan, lalu sopir mengambil jalur yang telah disepakati itu.

Saat hendak memasuki jalan alternatif Cibubur atau dekat RS Melia, jalanan rusak sehingga kendaraan dipacu dengan kecepatan 10 km/jam. Saat melaju pelan, tiba-tiba penumpang loncat keluar sehingga sopir kaget. Sang sopir lalu menghentikan kendarannya dan mencoba mendekati penumpang dan menanyakan sebab musabab meloncatnya HJP. Bukannya menjawab, HJP malah ketakutan mengira dirinya akan dijahati oleh sopir. HJP lalu menyetop sepeda motor dan kabur.

Dua bulan setelahnya, HJP melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel). Ia merasa dirugikan karena akibat kelalaian sopir, dia meloncat dari taksi sehingga mengalami luka dan rasa trauma. Setelah dipertimbangkan majelis, PN Jaksel menilai kerugian HJP terbukti.

“Bahwa kecuali atas permintaan dan persetujuan tamu adalah sudah menjadi kewajiban taksi untuk mengantar tamu penumpangnya ke tujuan yang dituju dengan mengambil jalur yang jaraknya paling dekat dengan waktu tempuh paling cepat dan penumpang merasa nyaman dan aman,” putus majelis yang diketuai Mathius Samiaji dengan anggota Yonisman dan Suko Harsono sebagaimana dikutip detikcom dari website Mahkamah Agung (MA), Jumat (17/4/2015).

“Karena sudah menjadi rahasia umum lagi bahwa kecenderungan sopir taksi pada umumnya adalah sering menggunakan ketidaktahuan pengguna jasa taksi untuk mengambil rute jalan yang jauh,” sambung majelis hakim

Menurut majelis, meskipun benar bahwa sopir taksi telah meminta maaf karena keluar jalur yang disepakati semula, tetapi hal itu tidak menggugurkan sifat kesalahan sopir. Sebab hanya sopir dan hati sopir sendiri yang tahu dan untuk mengobjektifkan hal itu adalah perbuatan sopir sebelum terjadi kelalaian itu.

“Begitu juga seringnya terjadi tindak kejahatan terhadap penumpang taksi yang disinyalir ada keterlibatan dari pengemudi taksi, jelas membuat tamu taksi tidak selalu merasa aman dan nyaman naik taksi yang menyebabkan tidak setiap pengguna jasa taksi bersedia menumpang sembarang armada taksi,” papar majelis hakim dengan suara bulat.

Majelis hakim menggunakan Pasal 1365 KUHPerdata yaitu perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang menimbulkan kerugian bagi pihak lain, ada kesalahan, terdapat hubungan kausalitas dan adanya kerugian yang ditimbulkan.

“Dengan demikian di satu sisi adalah kewajiban dari pengemudi taksi dan di pihak lain bagi penumpang taksi adalah sebagai haknya mengenai kenyamanan-keamanan dan tidak diputar-putarkan sewaktu dirinya sebagai tamu penumpang taksi,” tegas majelis hakim.

Menurut majelis seorang sopir taksi tentu tahu bahwa jalur Cawang-Cibubur melalui lajur kanan dan bukannya mengambil lajur kiri sehingga terseret arus masuk ke lajur JORR arah Jatiasih. Atas dasar itu, majelis hakim menilai ada unsur kesengajaan dari sopir untuk keluar dari jalur yang disepakati di awal.

Atas pertimbangan di atas, maka majelis hakim yakin jika sopir tersebut telah melakukan perbuatan melanggar hukum.

“Menghukum Tergugat I dan Tergugat II membayar ganti rugi materiil Rp 2.008.800 dan kerugian immateril sebesar Rp 100 juta,” putus majelis.

Majelis hakim juga menghukum penumpang membayar argo taksi sebesar Rp 100 ribu dan Rp 16 ribu untuk tiket tol yang belum dibayarnya. Atas putusan yang diketok pada 7 Mei 2012 itu, perusahaan taksi tidak terima dan mengajukan banding. Kasus ini masih diperiksa di Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta.

Referensi :

news.detik.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s