‘Mati’ Sebelum Akhirnya Jadi Abadi

Posted on

GambarMungkin yang namanya abadi itu tidak pernah benar-benar ada. Sekeras apapun berusaha, keabadian itu bakal terusik. Lalu kematian datang dengan mengendap-endap.

Dan begitulah Sir Alex Ferguson. Tidak, tidak, dia belum mangkat atau semacam itu. Fergie hanya pensiun dari karier panjangnya sebagai manajer. Tapi dalam metafora soal kematian di atas, manajer yang tampak tidak akan pernah pensiun itu pada ujungnya menyerah pada sebuah akhir. Fergie Time –mereka bilang– akhirnya menunjukkan bentuk aslinya.

Ada banyak kisah soal keabadian dan tidak semuanya berujung enak. Ada cerita soal Fountain of Youth, ada kisah-kisah ramuan ajaib elixir dan paraalchemist-nya, sampai legenda soal Highlander. Menariknya ada satu benang merah yang bisa ditarik dari kisah-kisah itu: kadang hidup terlalu lama itu tidak enak, justru keterbatasan umurlah yang membuat hidup jadi berharga.

Fergie pun begitu. Pernyataan pensiunnya memang mengejutkan banyak pihak. Tapi pernyataan tersebut hanya membuat apa yang sudah dibuatnya sepanjang karier manajerialnya dikenang. Fergie yang tukang protes, Fergie yang suka mendamprat wasit, Fergie yang pernah menendang sepatu sampai mengenai pelipis pemainnya, tapi juga dia adalah Fergie yang tidak suka kalah. Dia adalah Fergie, seorang pemenang.

Hanya Cathy, sang istri, yang bisa menampik superioritas Fergie di lapangan. Hanya di rumah Fergie tidak menjadi Fergie. Cathy hampir pasti memenangi semua perdebatan, selumrahnya istri-istri pada suami-suami mereka. Cathy bakal dengan santainya berbicara soal mesin cuci yang rusak ketika Fergie baru sampai rumah atau bercerita bagaimana kelakuan Mark kecil, anak mereka, sepanjang hari.

Hanya di luar rumah dan di pinggir lapangan, Fergie tampak tegar dan terkadang arogan. Sifat yang didapatnya dari tumbuh di sekitar galangan kapal di Skotlandia sana dan ajaran yang diwariskan oleh sang ibu, Elizabeth. Berkat ketegaran yang diajarkan Elizabeth jugalah Fergie kemudian melewati mati dan hidup berkali-kali, seperti ketika spanduk yang menginginkannya didepak dari Old Trafford muncul pada masa-masa awal rezimnya di Theatre of Dreams.

Andai arogansi itu tidak ada, mungkin United yang sekarang tidak akan pernah ada. Andai arogansi itu tidak ada, jangan harap Class of ’92 yang tersohor itu bisa muncul ke permukaan. Jangan harap Paul Ince bermain untuk Liverpool, sebab mungkin dia masih jadi Guv’nor di ruang ganti. Jangan harap bisa melihat Cristiano Ronaldo, Carlos Tevez, dan Wayne Rooney bisa bermain dengan cair pada 2008, sebab mungkin saja Ruud van Nistelrooy masih di sana.

Arogansi itulah yang membuat Fergie dengan tegas menyatakan, tak ada pemain yang lebih besar dari klub –atau mungkin lebih besar dari manajernya, yaitu dia, sendiri. Di satu sisi, itu tampak memuakkan. Di sisi lainnya, itu telah membawa United untuk bertahan dan beradaptasi berkali-kali. Fergie telah membawa tim yang terseok-seok sebelum dia datang itu untuk berevolusi mengikuti zaman.

Keinginannya untuk terus menemukan bentuk tim terkuat telah membuatnya menjelajah berbagai bentuk formasi, bongkar-pasang tim, makan korban dan depak pemain. Tim yang secara kasat mata bermain dengan 4-4-2, tahunya bermain dengan 4-4-1-1 di lapangan. Adaptasi akan taktik inilah yang kemudian membawanya ke pencapaian terbaik terakhirnya di Eropa, ketika Ronaldo-Rooney-Tevez dengan fasihnya bergerak bebas mengeksploitasi pertahanan lawan.

Namun, bahkan tim dalam bentuk terbaik seperti itu pun tidak disakralkannya. Tidak pernah ada tim yang terlalu suci untuk Fergie. Dia bahkan berani membandingkan tim United musim ini –yang bahkan kerepotan di Liga Champions– dengan tim tahun 1999 yang mampu meraih treble. Untuk alasan yang sama jugalah kemudian dia membiarkan Ronaldo pergi.

“This team might not have the Ronaldo factor, but it doesn’t understand the word defeat,” katanya suatu waktu.

======

Gambar“It’s a really proud moment for me [having a statue at Old Trafford]. Normally people die before they have a statue. I’m outliving death!”

======

Fergie yang seperti itulah yang kemudian dikenal oleh para penggemar United, terutama para penggemar tim itu yang bahkan belum lahir ketika Fergie pertama kali ditunjuk jadi manajer. Bagi mereka, sejak pertama kali menggemari The Red Devils, hanya ada satu manajer, ya Fergie itu.

Evolusi dan adaptasi itulah yang membuat Fergie seolah-olah abadi. Dalam sudut pandang lain, United pun seperti kehilangan eksistensinya. United seolah-olah menjadi alter-ego dan wadah untuk keegoisan pria sepuh itu. United adalah Fergie, Fergie adalah United. Efek lainnya, jika Fergie mengalami kemunduran, maka demikian pula United.

Tidak perlu telaah dalam-dalam untuk melihat bagaimana permainan United menurun dalam beberapa musim terakhir. United memang masih bisa bertahan dalam musim yang panjang seperti di liga, tapi begitu kedodoran di Eropa. Taktik Fergie tidak lagi menolong. Sayap-sayap yang dulu membantunya menguasai Eropa untuk pertama kali bersama United sudah patah, dan itu terlihat dari bagaimana mediokernya Antonio Valencia, Nani, dan Ashley Young sepanjang musim ini.

Taktik Fergie kerap membingungkan. Dia menaruh Shinji Kagawa di sisi kiri, ketika gelandang Jepang itu punya posisi terbaik berada di belakang striker. Dia membiarkan garis pertahanan timnya berdiri terlalu dalam sehingga membuatnya mudah dieksploitasi Sergio Aguero atau Jan Vertonghen sekalipun. Tanda-tanda ini, seperti tanda-tanda kematian, seperti menunjukkan bahwa Fergie mulai mendekati akhir.

Sesungguhnya, ketika usianya kian uzur dan umur rezimnya terus membengkak, orang-orang sudah bisa menerka bahwa Fergie sudah memasuki masa akhirnya di Old Trafford. Masa-masa itu bak sebuah outro dari lagu yang berdurasi panjang, bak bagian“Na.. Na.. Na.. Hey Jude!” dalam Hey Jude milik The Beatles –Anda tahu ini sudah memasuki bagian akhir, tapi tidak tahu kapan akan berakhirnya.

Dengan segala penurunan itu, barangkali pensiunnya Fergie jadi punya titik cerah. Barangkali ada baiknya menyelamatkan dia dari “hidup” yang terlalu lama. Toh dia sudah cukup memberi banyak untuk United, mengangkatnya dari papan bawah first division hingga menjatuhkan Liverpool dari takhta-nya.

Dalam kondisi seperti inilah lambat-lambat kalimat Harvey Dent di film The Dark Knight itu seperti menemukan perwujudannya: “You either die a hero or you live long enough to see yourself become the villain.”

Hidup dan rezim yang terlalu lama hanya akan memperbesar kemungkinan Fergie untuk menjadi penjahat ataupun diktator, seperti umumnya ditemui pada negara-negara dengan para “pemimpin seumur hidup”. Tidak enak rasanya melihat orang yang sudah membangun tim sampai sedemikian rupa kemudian membuatnya hancur dengan sendirinya. Fergie, disukai atau tidak, pada akhirnya tahu kapan dia harus menyudahi perjalanannya.

Biarkanlah Ryan Giggs mengenang dalam-dalam momen di mana Fergie mengetuk pintu rumahnya berbelas-belas tahun lalu. Biarkanlah David Beckham mengenang bagaimana dia dibela sang manajer ketika seluruh Inggris memusuhinya –sampai pada momen tendangan sepatu itu. Biarkanlah mereka yang dalam belasan hingga puluhan tahun belakangan mengenal United berbicara, “Dulu, kita mengenal klub ini lewat seseorang bernama Alex.”

Atas semua alasan di atas, penghormatan terbaik untuknya memang membiarkan dia pensiun. Fergie mungkin berakhir atau dalam metafora di awal tulisan ini menjadi mati. Tapi, bukankah kematian adalah salah satu jalan menuju keabadian? Mungkin dengan menyatakan pensiun, Fergie sudah menenggak atau bahkan menjilat tetes terakhir elixir-nya.

Ta-ra Fergie!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s