Smoking Banned

Posted on

My opinion on the smoking ban in public places is a positive thing so that people who don’t smoke don’t smoke inhalation people who smoke (passive smokers). Lack of awareness of smokers against the smoking ban in public places make people around who don’t smoke coughing and red eyes. I don’t agree, but there’s been a smoking ban but nonetheless there are still people who smoke.

The best step is to admonish the smoker to be moved to a special area for smoking or into opened room. As a society who care about our health must be alert so that people who smoke in order to quit smoking or at least reduce smoking in a day.

How to be a Success Student ?

Posted on

I think there are some ideas to become success student, as follows :

first, always wake up in the morning.

Don’t be lazy wake up, many activities that must be performed when the morning. For example, exercise like jogging (inhaling the morning air).

Second, ambitious.

Always try a variety of things to be successful, it may be in one of your experiment failed but on your next experiment could have succeeded.

Third, brave.

Dare to try new things, dare to take risks and dare to get it started.

According me there are 3 ideas to be a success student as the above. Let’s do it!

Opinion about White Lies

Posted on Updated on

Tell about white lies, I have experienced things that make my head dizzy. In the lecture, while conducting scientific research with the guidance of my instructor, she led well and firmly. But when my scientific research has me finish with nice and timely, my instructor said that there are some things that must be changed. For the sake of my goodness i said yes what should be changed in order for my research go well later. Whereas before I put a scientific research to my instructor, this research revealed are correct by the instructor outside of coursework. And finally I had to finish the research over again.

Talking about lying for the sake of it a reasonable thing done, as long as no one is harmed over the lies we are doing positive things and make up lies. But on the other hand the white lies don’t get too often to do, because every time we tell a lie even though it was for the good over others but the impact on us is not quite good. For it is better we do something in a good way, do our activities wisely and honestly.

In the above I agree with white lies. Sometimes we are in a difficult situation where white lies need to be done in order to make things better. I think it’s just an opinion about white lies.

3 Things Like and Dislike

Posted on

This is a story where there are three things that could be I like and I dislike about anything, perhaps the most important thing, foolish, or maybe funny. Some of it is sometimes very touching.

Three things I like that my ittle brother who is now beginning to grow up. He is very so much love to my parents, especially to father. Secondly, when I travel with my family to a place for quality time, I think it is important because for more intimate with my family. And the third thing I like best is when in running a business can run smoothly.

Next, there are three things that I do not like. First I don’t like it if too long waiting for something, for example waiting for someone. The second was when I was talking, but nobody is listening to me. And the last thing I don’t like is when luck was not on our side. For example when you want to go suddenly raining and when it was forgotten in the seat of the motorcylce does not bring a raincoat. That is 3 things like and dislike from me, are you?

Bulan Menggapai Bintang

Posted on

Dusun Pilanggeneng di pagi hari tampak sepi. Hanya sesekali terlihat beberapa orang petani atau pedagang dengan keranjang yang hendak menjual dagangannya ke pasar desa. Sementara aku, seorang gadis kecil harus berjalan sendirian sepagi ini pasti menjadi pertanyaan bagi mereka yang tidak mengenal siapa aku. “Mau berangkat sekolah, Neng Bulan…”, Sapa salah seorang petani yang kebetulan berpapasan denganku.

Ya… Bulan adalah namaku. Aku tinggal di Dusun Pilanggeneng. Sebuah dusun terpencil yang terletak di lereng Lawu. Aku anak pertama dari empat bersaudara. Saat ini aku duduk di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Wonoasih. Seperti siswa kelas enam lainnya, saat ini aku sedang disibukkan dengan persiapan menghadapi Ujian Nasional.

“Awas! Hati-hati Nak Bulan,” Kata Pak Mo. Tanpa aku sadari aku berjalan terlalu ke pinggir sebuah sungai beraliran deras yang oleh penduduk desa dinamakan sungai Tirto Wening. “Huuuft… hampir saja. Matur suwun, Pak Mo,” Kataku ketika tersadar dari lamunan. Rupanya aku kurang hati-hati tadi. Kalau sampai terjatuh bisa kotor bajuku, dan itu berarti aku harus berjalan kembali sejauh 5 kilometer ke rumah dan aku tidak akan sempat lagi mengejar bel masuk sekolah.

“Oalah… Nduk…nduk… Mau sekolah aja kok harus susah-susah jalan jauh-jauh. Nyebrang kali, lewat tegalan orang. Nanti ujung-ujungnya ya harus ngurus dapur sama sawah”, Kata Ibuku. Sudah puluhan kali atau bahkan ratusan kali ku dengar kata-kata itu. Aku rasa Ibuku khawatir setiap kali aku berangkat ke sekolah. Hal ini wajar karena jarak sekolah ku cukup jauh. Diperlukan waktu satu jam dengan jalan kaki menuju ke sekolah. Karena tidak ada jalan raya penghubung antara dusun ku dengan desa tempat sekolahku berada.

“Gimana Bulan, sudah dapat ijin dari orangtua?” Tanya Bu Karni, guru wali kelasku. “Masih dipikirkan, Bu” Jawabku. “Lha kok aneh, anaknya diterima di sekolah favorit kok masih harus dipikir-pikir dulu”. Bu Karni merasa heran akan keluargaku. Aku terdiam memikirkan ucapan Bu Karni. Aku jadi teringat dengan percakapan tiga hari yang lalu dengan Pak’e dan Bu’e di rumah.

“Memangnya harus ya, Nduk”, Kata Pa’e sambil meniup cangkir kopinya. “Tak kiro yo habis SD ya sudah cukup. Iso moco karo nulis, yo wis. Kamu ini kan anak perempuan. Tiga adhi mu itu laki-laki semua. Mereka yang harus sekolah sing duwur. Supoyo jadi orang pinter lan bisa menafkahi anak istrinya kelak”, Terang Bapakku panjang lebar.

“Lha iyo to Nduk. SMP-mu itu nanti kan jauh dari rumah. Lha wong dari sini aja jaraknya ada dua puluh kiloan. Gak mungkin to kamu harus jalan kaki sejauh itu”, Kata Ibuku yang sedang menggendong adikku yang paling kecil. “Tapi kan bisa kos to Bu”, Jawabku dengan pelan. “Duwit teko ngendi buat bayar kos mu”, Bapakku menyahut. “Buat makan sehari-hari saja kadang susah, lha kok harus buat bayar kos!”, Kata Bapak dengan gusar. “E… yo wis to Pak, gak usah marahi anak kayak gitu”, Ibu menenangkan Bapak dengan sabar. “Gini lho Nduk, meskipun nantinya sekolahmu itu dibayari sama pemerintah, tapi masih butuh biaya to buat beli seragam, kosmu, belum sangu buat sekolah. Pa’e lan Bu’e ora sanggup, Nduk…” Kata Ibuku sambil mengelus rambutku. “Di rumah saja ya, bantu Pa’e karo Bu’e”, Pinta Ibuku.

Kata-kata Ibuku tadi meskipun halus tapi membuatku sangat kecewa. “Apakah aku harus berhenti sampai disini? Apakah aku harus seperti anak-anak perempuan yang lain di desa ini yang setelah tamat SD harus tinggal di rumah karena jauhnya SMP dari dusunku ini? Lalu untuk apa aku harus susah-susah belajar untuk menghadapi ujian? Lha wong nanti nilainya tidak bisa digunakan untuk melanjutkan sekolah?” pikirku saat itu.

Bel sekolah tanda istirahat selesai membuyarkan lamunanku. “Yakinkan Bapak sama Ibumu, ya Bulan. Kamu anak pintar. Kamu tidak boleh berhenti bersekolah”, Kata Bu Karni sebelum aku kembali ke kelas.

“Awas, belutnya jangan sampai lepas, Sar!” Teriakku. Minggu pagi seperti ini, sawah dipenuhi oleh anak-anak desa yang sedang berburu belut. “Tenang Lan…, nih lihat! Aku dapat yang besar…” Sahut Sari sambil memasukkan belut yang entah ke berapa dalam botol plastik. Sahabatku ini memang jago dalam menangkap belut. “Sudah ah, pulang yuk… Nanti dicari sama Bu’e,” Ajakku. “Ayo, tapi kita bersihkan badan dulu di sungai ya… Makku bisa marah, kalau aku pulang dengan badan penuh lumpur seperti ini.” Kata Sari sambil berjalan di atas pematang sawah menuju ke sungai kecil tak jauh dari sawah ini.

“Kamu jadi sekolah di kota, Lan?” Tanya Sari sambil membasuh tangan dan kakinya dengan air sungai yang bening dan sejuk. “Entahlah, Sar.” Jawabku sambil menarik napas panjang. “Kalau aku wis pasrah, Lan. SMP terlalu jauh dari sini. Aku gak boleh sama Mak dan Bapakku.” Kata Sari tanpa beban. “Aku sih pinginnya bisa sekolah yang tinggi, Sar. Aku pingin jadi guru, terus bikin sekolah di sini. Supaya anak-anak di dusun kita ini bisa sekolah dengan mudah. Ndak perlu lagi jalan ke desa sebelah atau gak bisa lanjut sekolah karena gak ada SMP.” Kataku sambil duduk di atas batu sungai yang besar. “Tapi… rasané kok gak mungkin. Pak’e sama Buk’e ndak kasih ijin untuk melanjutkan sekolah di kota… Kalau sudah begini, rasanya nggak semangat lagi ikut ujian nasional.” Mataku mulai basah oleh air mata.

“Lha yo sabar, tho Nduk…” Sahut Pak Mo. Tanpa kita sadari Pak Mo yang sedang memandikan kerbaunya memperhatikan percakapan aku dan Sari. “Gusti Allah mboten Saré. Allah itu Maha mendengar. Ndak boleh putus asa. Berdo’a… minta supaya dikasih jalan keluar.” Kata Pak Mo dengan bijak. Kata-kata beliau membuatku tersadar bahwa masih ada harapan, meski tidak tahu dari mana datangnya, kesempatan itu masih ada. Pak Mo benar, Gusti Allah mboten Saré. Allah itu tidak pernah tidur dan selalu memperhatikan semua permintaan hambanya.

Ujian Nasional akhirnya datang juga. Dengan langkah pasti, aku tapaki lembar demi lembar soal dengan sungguh-sungguh demi sebuah keyakinan bahwa saya bisa melanjutkan sekolah sesuai dengan harapan. Meskipun sampai saat ini jawaban Bapak sama Ibu masih sama, namun setidaknya saya harus terus mencoba meyakinkan mereka. Salah satunya yaitu dengan mempersembahkan nilai yang terbaik bukti dari kesungguhan niat.

Pada saat pengumuman kelulusan, saya benar-benar bersyukur kepada Allah, bahwa saya menjadi lulusan yang terbaik di Kecamatan Wonoasih. Ini berarti harapan bagiku supaya Pak’e dan Bu’e mau merubah keputusan.

Selepas Ashar, kulihat orangtuaku itu sedang duduk beristirahat sepulang dari sawah. Dengan hati-hati ku dekati mereka untuk mengungkapkan maksudku. “Masalah ini kan sudah diputuskan, Nduk. Meskipun nilaimu bagus, tapi Pak’e gak bisa. Bukannya ndak mau… tapi biaya untuk sehari-hari di sana mau dicarikan uang dari mana? Ingat… adik-adikmu itu masih kecil.” Sekali lagi ucapan Pek’e membuatku tertunduk. Dengan lirih aku berusaha untuk menjelaskan keinginanku, “Tapi… saya masih kepingin sekolah…”

“Lha ini bocah dikandhani kok gak ngerti-ngerti. Sekali gak bisa… ya gak bisa, Titik! Awas yen mbantah lagi!” Pak’e mulai marah.

Dalam bantal tempat tidurku yang usang, aku hanya bisa menangis meratapi diri. Duh Gusti Allah… apakah saya harus menerima kenyataan ini. Apakah aku harus seperti anak-anak Dusun Pilanggeneng yang lain, yang harus puas dengan bekal ijasah SD? Apakah aku harus mengubur impianku? Tidak! Rasanya hati ini tidak bisa menerima.

“Assalamu’alaikum…” Sayup-sayup kudengar suara orang mengetuk pintu. “Wa’alaikum salam…” Jawab Bu’e dan Pa’e. Rupanya Pak Mo yang datang dengan seseorang yang tidak kukenal. Setelah dipersilahkan duduk, tampaknya mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting. Sayang aku tidak bisa mendengar dengan jelas, karena letak kamarku yang berada di belakang.

“Bulan…, dicari sama Pak Mo Nak…” Kata Bu’e mengetuk pintu kamarku. Dengan cepat kuhapus airmataku dan berjalan keluar kamar.

“Bulan, ini Bapak Harun, adik saya. Beliau ini tinggal di kota.” Kata Pak Mo memperkenalkan adiknya. “Bulan, kedatangan saya disini dengan maksud untuk memintamu menjadi anak asuh kami. Terus terang anak kami satu-satunya, Diana, sudah kuliah di Bandung. Jadi kami sering merasa kesepian di rumah. Bagaimana Bulan, mau kan?” Jelas Pak Harun. “Ya Allah, inikah pertolongan-Mu?” Kataku dalam hati. “Tadi kami sudah minta ijin sama Bapak dan Ibumu. Sekarang tinggal kamu, mau apa tidak?” Tanya Pak Mo.

“Bagaimana Pak’e… Bu’e… Boleh apa tidak?” Tanyaku hati-hati. “Pak’e sama Bu’e ijinkan kamu untuk sekolah di kota, Nduk. Asalkan kamu bisa jaga diri disana.” Kata Pak’e. “Dan jangan lupa untuk sering-sering pulang ke rumah, ya.” Sambung Bu’e sambil memelukku. Alhamdulillah ya Allah… Pak Mo benar. Gusti Allah tidak pernah tidur. Asalkan kita mau berusaha dan berdo’a, pasti impian kita akan berhasil.

Impian sudah terbayang di pelupuk mata. Dengan tekad belajar sungguh-sungguh, suatu hari nanti, saya akan mengabdikan ilmu yang didapat untuk dusun tempat kelahiranku. Supaya lebih banyak anak yang bisa menggapai impiannya untuk bersekolah dan menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Sumber:

http://cerpenmu.com/cerpen-pendidikan/impian-bulan-menggapai-bintang.html

Artikel B.Indonesia

Posted on

Diadukan Penumpang, Mengapa Taksi di Jakarta Ini Dihukum Rp 102 Juta?

Transportasi merupakan hal yang penting bagi kehidupan kita sehari-hari, ada transportasi pribadi dan ada transportasi umum untuk masyarakat yang tidak menggunakan transportasi pribadi. Banyak transportasi umum yang ditawarkan ke masyarakat dengan berbagai fasilitas yang diberikan, sehingga masyarakat hanya perlu memilih mana yang sesuai untuk mengantarkan ke tempat tujuannya masing-masing sesuai kebutuhan yang diinginkan.

Taksi adalah salah satu alat transportasi umum yang sudah sejak dulu menjadi pilihan masyarakat untuk mengantarkan ke tempat tujuan, karena taksi menawarkan fasilitas yang berbeda dari transportasi umum lainnya. Taksi membuat masyarakat seperti berada dalam kendaraan pribadi dapat mengantarkan sampai tujuan bahkan sampai di depan rumah, dan juga taksi beroperasi selama 24jam jadi masyarakat dapat menggunakan taksi di jam-jam emergency saat transportasi lainnya sudah habis waktu beroperasinya.

Banyak keunggulan yang ditawarkan oleh taksi, kenyamanan dan rasa aman masyarakat yang menggunakan jasa taksi sangat diprioritaskan oleh pihak taksi. Namun banyak sopir taksi yang tidak menerapkan kenyamanan pengguna taksi, karena sudah menjadi rahasia umum lagi bahwa banyak dari sopir taksi pada umumnya sering memanfaatkan ketidaktahuan pengguna jasa taksi untuk mengambil rute jalan yang jauh agar argo taksi naik sehingga dapat meningkatkan pendapatan sopir taksi.

Pada 10 Agustus 2011 pukul 20.00 WIB saat HJP seorang wanita memutuskan untuk naik taksi dari Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Namun taksi yang seharusnya mengantarnya ke Cibubur dan melalui tol Jagorawi, tiba-tiba terseret arus lalu lintas dan masuk ke JORR arah Jatiasih. Di saat yang bersamaan, penumpang tertidur. Lalu setelah itu penumpang terbangun, Sopir taksi lalu meminta maaf dan menawarkan apakah akan kembali ke jalur atau melalui jalan umum. Lalu HJP menjawab tidak usah balik tetapi menggunakan jalan umum lewat Setu-Cilangkap-Cibubur. Setelah mendapat persetujuan, lalu sopir mengambil jalur yang telah disepakati itu.

Saat hendak memasuki jalan alternatif Cibubur atau dekat RS Melia, jalanan rusak sehingga kendaraan dipacu dengan kecepatan 10 km/jam. Saat melaju pelan, tiba-tiba penumpang loncat keluar sehingga sopir kaget. Sang sopir lalu menghentikan kendarannya dan mencoba mendekati penumpang dan menanyakan sebab musabab meloncatnya HJP. Bukannya menjawab, HJP malah ketakutan mengira dirinya akan dijahati oleh sopir. HJP lalu menyetop sepeda motor dan kabur.

Dua bulan setelahnya, HJP melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel). Ia merasa dirugikan karena akibat kelalaian sopir, dia meloncat dari taksi sehingga mengalami luka dan rasa trauma. Setelah dipertimbangkan majelis, PN Jaksel menilai kerugian HJP terbukti.

“Bahwa kecuali atas permintaan dan persetujuan tamu adalah sudah menjadi kewajiban taksi untuk mengantar tamu penumpangnya ke tujuan yang dituju dengan mengambil jalur yang jaraknya paling dekat dengan waktu tempuh paling cepat dan penumpang merasa nyaman dan aman,” putus majelis yang diketuai Mathius Samiaji dengan anggota Yonisman dan Suko Harsono sebagaimana dikutip detikcom dari website Mahkamah Agung (MA), Jumat (17/4/2015).

“Karena sudah menjadi rahasia umum lagi bahwa kecenderungan sopir taksi pada umumnya adalah sering menggunakan ketidaktahuan pengguna jasa taksi untuk mengambil rute jalan yang jauh,” sambung majelis hakim

Menurut majelis, meskipun benar bahwa sopir taksi telah meminta maaf karena keluar jalur yang disepakati semula, tetapi hal itu tidak menggugurkan sifat kesalahan sopir. Sebab hanya sopir dan hati sopir sendiri yang tahu dan untuk mengobjektifkan hal itu adalah perbuatan sopir sebelum terjadi kelalaian itu.

“Begitu juga seringnya terjadi tindak kejahatan terhadap penumpang taksi yang disinyalir ada keterlibatan dari pengemudi taksi, jelas membuat tamu taksi tidak selalu merasa aman dan nyaman naik taksi yang menyebabkan tidak setiap pengguna jasa taksi bersedia menumpang sembarang armada taksi,” papar majelis hakim dengan suara bulat.

Majelis hakim menggunakan Pasal 1365 KUHPerdata yaitu perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang menimbulkan kerugian bagi pihak lain, ada kesalahan, terdapat hubungan kausalitas dan adanya kerugian yang ditimbulkan.

“Dengan demikian di satu sisi adalah kewajiban dari pengemudi taksi dan di pihak lain bagi penumpang taksi adalah sebagai haknya mengenai kenyamanan-keamanan dan tidak diputar-putarkan sewaktu dirinya sebagai tamu penumpang taksi,” tegas majelis hakim.

Menurut majelis seorang sopir taksi tentu tahu bahwa jalur Cawang-Cibubur melalui lajur kanan dan bukannya mengambil lajur kiri sehingga terseret arus masuk ke lajur JORR arah Jatiasih. Atas dasar itu, majelis hakim menilai ada unsur kesengajaan dari sopir untuk keluar dari jalur yang disepakati di awal.

Atas pertimbangan di atas, maka majelis hakim yakin jika sopir tersebut telah melakukan perbuatan melanggar hukum.

“Menghukum Tergugat I dan Tergugat II membayar ganti rugi materiil Rp 2.008.800 dan kerugian immateril sebesar Rp 100 juta,” putus majelis.

Majelis hakim juga menghukum penumpang membayar argo taksi sebesar Rp 100 ribu dan Rp 16 ribu untuk tiket tol yang belum dibayarnya. Atas putusan yang diketok pada 7 Mei 2012 itu, perusahaan taksi tidak terima dan mengajukan banding. Kasus ini masih diperiksa di Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta.

Referensi :

news.detik.com

BAHASA INDONESIA BAB 1, 2 & 3

Posted on

BAB 1
PENALARAN
•    Penalaran merupakan suatu corak atau cara seseorang mengunakan nalarnya dalam menarik kesimpulan sebelum akhirnya orang tersebut berpendapat dan mengemukakannya kepada orang lain.
•    Kegiatan penalaran dapat bersifat ilmiah dan non ilmiah. Dari prosesnya, penalaran dapat dibedakan sebagai penalaran induktif dan deduktif.
A.    Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus. Penalaran ini dari khusus ke umum.
B.    Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif adalah proses penalaran    untuk  menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang  bersifat umum. Penalaran ini dimulai dari umum ke khusus.

PROPOSISI
•    Adalah Suatu proses berfikir yang berusaha menghubungkan fakta yang diketahui menuju ke pada suatu kesimpulan.
•    Proposisi dapat dibatasi sebagai pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung di dalamnya. Maksudnya adalah dalam suatu kalimat proposisi tidak boleh ada 2 pernyataan benar dan salah sekaligus.
1.    Semua orang akan mati pada suatu waktu.
2.    Beberapa wilayah di Indonesia mempunyai kekayaan alam yang berlimpah.
3.    Kota Semarang hancur dalam perang melawan penjajahan.
4.    Semua harimau telah punah beberapa tahun silam.

Catt: kedua kalimat pertama dapat dibuktikan kebenarannya. Kedua kalimat terakhir dapat ditolak karena kebenarannya tidak sesuai dengan fakta/tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
•    INFERENSI DAN IMPLIKASI
A.    Inferensi (infere) : menarik kesimpulan.
    proses untuk menghasilkan informasi dari fakta yang diketahui.
B.    Implikasi (implicare) : melibat / merangkum.
    rangkuman, sesuatu yang dianggap ada karena sudah di rangkum dalam fakta/ evidensi itu sendiri.
EVIDENSI
Semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatau fenomena.
Wujud Evidensi
evidensi berbentuk data & informasi (keterangan yang diproleh dari sumber tertentu).
CARA MENGUJI DATA
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi.
Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian data:
1. Observasi  mengamati secara langsung sesuatu objek untuk melihat dengan dekat kegiatan yang dilakukan objek tersebut
2. Kesaksian
3. Autoritas

BAB 2
SILOGISME & ENTIMEN
DEFINISI SILOGISME
•    Bentuk Penalaran dengan cara menghubung-hubungkan dua pernyataan yang berlainan untuk dapat ditarik simpulannya.
•    Silogisme termasuk dalam penalaran deduktif. Deduktif merupakan salah satu teknik untuk mengambil simpulan dalam sebuah karangan.
JENIS SILOGISME
•    Silogisme Kategorial: silogis yang semua proposisinya merupakan kategori
•    Silogisme hipotesis: argumen yang premis mayornya berupa prosposisi hipotesis
•    Silogisme alternatif: argumen yang premis mayornya berupa prosposisi alternatif
UNSUR-UNSUR YANG TERDAPAT DALAM SILOGISME
1.    Premis Umum (Premis Mayor)  menyatakan bahwa semua anggota golongan tertentu (A) memiliki sifat atau hal yang tersebut pada (B)
2.    Premis Khusus (Premis Minor)  menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang (C) adalah anggota golongan tertentu (A)
3.    Simpulan: menyatakan bahwa sesuatu atau seseoarng itu (C) memiliki sifat atau hal yang tersebut pada B
SILOGISME KATEGORIAL (GOLONNGAN)
Silogisme kategorial adalah salah satu premis merupakan anggota premis yang lain.
Rumus:
PU: Semua A=B
PK: Semua C=A
S  : Semua C=B
•    CONTOH
PU     : Semua profesor pandai
PK    : Pak Habibi adalah profesor
S        : Pak Habibi Pandai
Pernyataan di atas dapat dianalisis sebagai berikut
PU    : Semua profesor (A) pandai (B)
PK    : Pak Habibi (C) adalah profesor (A)
S        : Pak Habibi (C) pandai (B)
ctt : kata “semua” dapat tidak disebutkan atau dapat juga diganti dengan kata “setiap” atau “tiap-tiap
SILOGISME NEGATIF
•    Ciri silogisme negatif yaitu ada kata bukan atau tidak
•    Contoh:
PU: Siswa yang baik selalu mengerjakan               pekerjaan rumah
PK: Asep Bukan Siswa yang baik
S  : Asep tidak mengerjakan pekerjaan rumah

SILOGISME HIPOTESIS
Silogisme hipotetis adalah silogisme yang memiliki premis mayor berupa proposisi hipotetis (jika), sementara premis minor dan kesimpulannya berupa proposisi kategoris.
Contoh:
PU: Jika hari ini tidak hujan, saya datang ke                  rumahmu
PK: Hari ini ujan
S  : Saya tidak datang ke rumahmu
SILOGISME ALTERNATIF
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh
PU: Boim berada di Bandung atau Bogor
PK: Boim berada di Bandung
K  : Boim tidak berada di Bogor
ENTIMEN
•    Suatu silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum, yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
•    Rumus:
C=B karena C=A
•    CONTOH
PU:     Semua siswa SMAN 1 Indramayu masuk     di universitas favorit yang mereka     impikan. (Semua A=B)
PK: Boim Siswa SMAN 1 Indramayu (C=A)
K  : Boim masuk universitas favorit (C=B)
Bentuk Entimennya:
Boim masuk universitas favorit yang ia impikan karena  ia siswa SMAN 1 Indramayu. (C=B Karena C=A)

BAB 3
PENALARAN INDUKTIF
PENALARAN INDUKTIF
menurut Shurter dan Pierce (dalam Shofiah, 2007: 14) penalaran induktif adalah cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat khusus.
Aspek dari penalaran induktif dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pargaraf generalisasi, analogi dan kausal.
DEFINISI GENERALISASI
Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagaian dari gejala serupa.
Dari sejumlah fakta atau gejala khusus yang diamati ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati itu.
Di dalam pengembangan karangan, generalisasi perlu ditunjang atau dibuktikan dengan fakta-fakta, contoh-contoh, data statistik, dan sebagainya yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus sebagai penjelasan lebih lanjut.
Contoh:
    Murid laki-laki itu pergi ke sekolah, dia memakai seragam sekolah.
    Murid perempuan itu pergi ke sekolah, dia memakai seragam sekolah.
    Generalisasi : Semua murid yang pergi ke   sekolah memakai seragam sekolah.
JENIS-JENIS GENERALISASI
1.    Generalisasi dengan loncatan induktif.
Generalisasi dengan loncatan Induktif adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh :
Hampir seluruh remaja di Indonesia sudah menggunakan handphone Blackberry.
2.    Generalisasi tanpa loncatan induktif
Generalisasi tanpa loncatan induktif adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh : sensus penduduk.
DEFINISI ANALOGI
Analogi adalah penalaran dengan cara membandingkan dua hal yang banyak mengandung persamaan. Dengan kesamaan tersebut dapatlah ditarik kesimpulannya.
JENIS-JENIS ANALOGI
1.    Analogi induktif.
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua.
Contoh:
Nindy terpaksa dicutikan dari Universitas Gunadarma karena terlambat mengisi KRS. Tria juga akan di cutikan dari Universitas Gunadarma jika dia terlambat mengisi KRS.
2.    Analogi deklaratif.
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal.
Contoh :
Metode pengajaran yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya haruslah memiliki waktu yang efektif. Pemberian materi kepada mahasiswa sebaiknya sesuai dengan kapasitas mahasiswa sejauh mana mahasiswa dapat menampung materi yang diberikan. Sama halnya dengan ember yang terus menerus diisi air, pada akhirnya akan tumpah juga jika terus menerus diisi dengan air.
TEORI
Teori adalah suatu pemikiran, penelaahan, bisa juga penelitian, yang telah diakui kebenarannya secara ilmiah.
FUNGSI TEORI
1.    Menjelaskan hakikat dan makna dari sesuatu yang diteliti
Mis: jika penelitian yang dikaji adalah motivasi, maka untuk mengetahui dan menjelaskan tentang
motivasi tersebut dapat dilihat melalui teori
2.    Menjelaskan hubungan sesuatu yang diteliti dengan hal lainnya.
Mis: menjelaskan hubungan motivasi dengan prestasi kerja
3.    Landasan untuk menyusun hipotesis penelitian.
Mis: Teori menyatakan bahwa motivasi berpengaruh terhadap prestasi kerja. Maka hipotesisnya adalah ”ada pengaruh motivasi terhadap prestasi kerja”, bunyi hipotesis ini sama seperti apa yang dinyatakan teori tersebut
4.    Acuan untuk membahas hasil penelitian
Mis: dari hasil penelitian yang telah dilakukan (bab IV skripsi) diperoleh hasil bahwa ada pengaruh motivasi terhadap kinerja, maka untuk membahas hasil penelitian ini, kita bisa mengkaitkannya dengan teori (bab II skripsi)
SUMBER TEORI
o    Buku teks (text book)
o    Jurnal (terbitan hasil penelitian ilmiah)
o     Proseding (kumpulan makalah seminar ilmiah)
o    Dll

INDUKSI DALAM METODE EKSPOSISI
Eksposisi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tenta
ng suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca.

LANGKAH MENYUSUN EKSPOSISI
1.    Menentukan topik/tema
2.    Menetapkan tujuan
3.    Mengumpulkan data dari berbagai sumber
4.    Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
5.    Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.